Sebagian
besar orang Marketing akan keberatan kalau disebut marketing merupakan
proses "trial and error". Mereka akan mengemukakan segudang argumen
untuk menunjukkan bahwa yang mereka lakukan bukan proses "trial and
error" tetapi merupakan proses ilmiah yang menggunakan berbagai macam
perhitungan, riset, pemikiran dan metode-metode.
Tetapi
fakta dilapangan berbicara lain. Begitu banyak produk yang gugur
dipasar. Produk tersebut gagal merebut hati para pelanggan dan gagal
bersaing dengan produk yang lain.
Sebagai
contoh, Blackberry Playbook - produk RIM yang pada awal persiapan
peluncuran diharapkan bisa menjadi saingan berat Ipad milik Apple,
ternyata malah menjadi "bahan tertawaan" para penggemar gadget, sehingga
permintaan akan Blackberry Playbook sangat kurang dari jumlah yang
diharapkan, bahkan akhir nya memaksa RIM untuk mengobral Blackberry
Playbook dengan diskon besar. Konon kegagalan Blackberry Playbook ini
juga yang memaksa beberapa pejabat senior RIM mengundurkan diri.
Masih
ada beberapa contoh lain tentang kegagalan produk dipasar, terlalu
banyak untuk diceritakan. Dari peristiwa itu kita bisa bertanya apakah
mereka meluncurkan produk tanpa perhitungan, tanpa pemikiran, tanpa
riset dan lain segabainya?
Untuk
perusahaan sekelas dan sebesar RIM, saya rasa semua produk yang akan
dipasarkan telah melewati suatu proses evaluasi yang panjang dan seksama
oleh para ahli dibidang marketing dan juga teknis. Pasti banyak
pertimbangan yang dipikirkan sebelum akhir nya mereka memutuskan untuk
mengeluarkan Blackberry Playbook seperti yang kita tahu sekarang. Dan
saya yakin semua perhitungan itu pasti menunjukkan arah positif sehingga
pihak RIM benar-benar mewujudkan Blackberry Playbook menjadi suatu
produk nyata. Tetapi semua perhitungan dan penelitian itu sia-sia dengan
bukti nyata Blackberry Playbook bukan primadona dipasar dan bahkan bisa
dikatakan masuk kategori pecundang.
Bagaimana
bisa, perusahaan yang sama yang mengenalkan kita pada teknologi
Blackberry Messenger yang top dipasar sehingga gadget Blackberry
merupakan salah satu gadget yg wajib dimiliki oleh manusia dinamis jaman
modern saat ini bisa menghasilkan produk gagal semacam Blackberry
Playbook? Sungguh suatu ironi.
Karena
kejadian-kejadian seperti diatas, maka saya berani menyimpulkan bahwa
Marketing is Trial and Error Process. Tidak satu pun tim Marketing
didunia yang mampu menjamin keberhasilan suatu produk dipasar, walaupun
tim yang sama pernah menghasilkan produk legendaris.
Namun apakah melakukan Trial and Error merupakan suatu tindakan yang salah dan tidak ilmiah?
Kalau
menilik tahapan metode ilmiah, maka tenyata Trial and Error merupakan
salah satu tahapan dari semua metode dan ilmu ilmiah yang ada selama
peradaban manusia ada. Menurut Wikipedia versi Indonesia, tahapan metode
ilmiah adalah sebagai berikut :
1. Karakterisasi (pengamatan dan pengukuran)
2. Hipotesis (penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran)
3. Prediksi (deduksi logis dari hipotesis)
4. Eksperimen (pengujian atas semua hal di atas)
Semua
ekperimen atau percobaan pasti mempunyai 2 macam akhir, yaitu berhasil
atau gagal. Jadi bukankah Trial and Error merupakan bagian dari metode
ilmiah? Bahkan Thomas Alfa Edison sang penemu terbesar sepanjang masa
menjadi sangat terkenal karena ketekunannya dalam melakukan Trial and
Error terhadap bahan pembuatan bohlam lampu, tidak tanggung-tanggung
konon Thomas Alfa Edison melakukan 1000 kali error sebelum menemukan
bahan yang tepat.
Jadi
jelas bahwa melakukan Trial and Error merupakan suatu kewajaran dan
sangat ilmiah. Jadi mengapa harus berkecil hati bila orang menganggap
kita melakukan Trial and Error?